SKRIPSI
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS KARIKATUR PADA SISWA KELAS IV SDN 3 BEBIDAS SEMESTER GENAP TAHUN PEMBELAJARAN 2015/2016
S U R Y A N I
NPM
13110225
Skripsi ini ditulis untuk memenuhi sebagian
persyaratan
dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP)
HAMZANWADI SELONG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakekatnya
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan setiap manusia karena dengan pendidikan
manusia dapat berdaya guna dan mandiri. Selain itu pula pendidikan sangat
penting dalam pembangunan maka tidak salah jika pemerintah senantiasa mengusahakan
untuk meningkatkan mutu pendidikan baik dari tingkat yang paling rendah maupun
sampai ketingkat perguruan tinggi.
Sekolah dasar sebagai
jenjang pendidikan terutama dalam sistem sekolah di Indonesia mempunyai tujuan
memberikan kemampuan dasar baca, tulis, hitung, pengetahuan dan keterampilan
dasar lainnya. Selain itu pula, di sekolah dasar banyak diperkenalkan dengan
benda-benda konkrit yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang
terdesain dalam suatu mata pelajaran pendidikan matematika.
Mata pelajaran matematika
adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan
dan merupakan bagian integral dari pendidikan nasional dan tidak kalah
pentingnya bila dibandingkan dengan ilmu pengetahuan lain. Matematika juga
merupakan ilmu dasar atau “basic science”,
yang penerapannya sangat dibutuhkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ironisnya matematika dikalangan para pelajar merupakan mata pelajaran yang
kurang disukai, minat mereka terhadap pelajaran ini rendah sehingga penguasaan
siswa terhadap mata pelajaran matematika menjadi sangat kurang.
Dalam pembelajaran
matematika, terutama di kelas tingkat
rendah banyak hal atau faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar
siswa dan hal-hal yang sering menghambat untuk tercapainya tujuan belajar.
Karena pada dasarnya setiap anak tidak sama cara belajarnya, demikian pula
dalam memahami konsep-konsep abstrak. Melalui tingkat belajar yang berbeda
antara satu dengan yang lainnya maka guru yang baik adalah guru yang mampu
mengajar dengan baik, khususnya ada saat menanamkan konsep baru. Salah satu
metode pembelajaran yang diharapkan mampu memberikan bantuan pemecahan masalah
dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa adalah dengan menerapkan sistem
pembelajaran yang menggunakan media
khususnya pada bidang studi matematika.
Sudah banyak tindakan yang dilakukan oleh
seorang guru untuk memotivasi siswa-siswanya agar mereka giat dan senang dalam
mengikuti pelajaran serta mendalami materi. Banyak cara yang ditempuh oleh guru
untuk mendapatkan perhatian dan respon yang baik dari siswa. Berbagai bahan
ajar telah digunakan dalam proses pembelajaran, salah satu diantaranya adalah
belajar dengan menggunakan Gambar-gambar lucu dan menarik minat siswa untuk
mengikuti pelajaran. Tujuan digunakannya bahan ajar dalam bentuk gambar adalah membangkitkan
semangat dan motivasi siswa untuk dapat menerima pelajaran matematika dengan
baik. Anggapan murid terhadap matematika adalah sulit dan membosankan. Apabila
guru pengampu mata pelajaran matematika dalam mengajar kurang senyum, maka akan
menambah bosan bagi siswa. Metode pengajaran yang diterapkan oleh guru biasanya
berbentuk ceramah dan latihan soal, apabila dilakukan terus-menerus akan
menjadikan siswa bosan dan tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Metode pembelajaran dengan menggunakan bahan
ajar karikatur dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi kejenuhan siswa
dalam proses pembelajaran matematika. Banyak orang suka dengan karikatur baik
bagi siswa SD, SMP, bahkan remaja terkadang masih banyak yang menyukai
karikatur. Dengan kata lain bahwa karikatur merupakan salah satu media belajar
matematika yang menghibur. Dengan melibatkan gambar-gambar kartun dalam
pembelajaran diharapkan siswa menyukai materi pelajaran dan memahami materi,
sehingga siswa dapat menerima pelajaran yang dipelajarinya.
Penerapan metode
pembelajaran dengan menggunakan media
khususnya bidang studi matematika didasari kenyataan bahwa pada bidang studi
matematika terdapat banyak pokok bahasan yang memerlukan media untuk menjabarkannya. Oleh sebab itu,
pembelajaran dengan menggunakan media
dalam pokok-pokok pembahasan
dianggap sangat tepat untuk membantu mempermudah siswa memahami materinya.
Disisi lain suasana belajar akan lebih hidup, dan komunikasi antara guru dan
siswa dapat terjalin dengan baik. Hal ini diduga pula dapat membantu siswa
dalam upaya meningkatkan prestasi belajarnya pada bidang studi matematika.
Kenyataan yang ada, penggunaan media di sekolah belum maksimal, dalam arti tidak semua guru
matematika menggunakan media
dalam mengajar. Hal ini disebabkan belum timbul kesadaran akan pentingnya
penggunaan media serta
pengaruhnya dalam kegiatan proses belajar mengajar terutama pada pelajaran matematika.
Berdasarkan hasil observasi
peneliti di Sekolah Dasar
Negeri 3 Bebidas Kecamatan Wanasaba,
diperoleh informasi tentang hasil belajar
siswa pada pelajaran matetamtika sangat rendah yaitu rata-rata kelas 6.00 sementara KKM untuk mata
pelajaran Matematika di SDN 3 Bebidas yang sudah ditetapkan dalam muatan
kurikulum SDN 3 Bebidas yakni rata-rata kelas 6.50. Siswa merasa jenuh karena guru mengajar dengan menerangkan
materi masih
dengan cara konvensional, sehingga pelajaran tidak dapat diterima dengan
baik. Siswa menjadi tidak senang terhadap
mata pelajaran matematika dan mengganggap bahwa matematika
itu pelajaran
yang susah dan membosankan, disamping itu juga masih
kurangnya penerapan bahan ajar
walaupun bahan ajar sebagian
sudah tersedia akan tetapi tidak semua guru belum oktimal menggunakannya. Berkenaan hal tersebut maka penelitian ini merupakan suatu
upaya untuk menguji efektivitas pengajaran dengan menggunakan bahan ajar yang akan
dibandingkan dengan
pengajaran tanpa menggunakan bahan
ajar, khususnya menggunakan bahan
ajar karikatur pada mata pelajaran matematika.
Untuk dapat belajar dengan baik maka dibutuhkan bahan
ajar yang relevan. Bahan ajar karikatur dalam hal ini yang
belum diterapkan yang dapat mendukung tercapainya tujuan belajar yang relevan. Dengan penerapan
bahan ajar karikatur belajar siswa akan lebih tertarik untuk belajar, sehingga akan belajar dalam jangka waktu yang lebih lama. Di
samping itu, untuk
memahami satu pelajaran yang dianggap sulit, siswa harus
memiliki waktu belajar yang lebih dari cukup, seperti halnya dalam mempelajari
mata pelajaran matematika. Pemakaian waktu belajar yang rutin dan giat berlatih
akan meminimalkan kesulitan yang dihadapi. Sehingga dengan frekuensi belajar
yang tinggi terhadap mata pelajaran matematika akan mendapatkan hasil belajar
matematika
yang baik pula.
Dari beberapa uraian di atas, maka dengan mengembangkan media karikatur dalam proses belajar
sangat mempengaruhi hasil
belajar matematika oleh penulis akan
melakukan
penelitian yang
berjudul “Pengembangan
bahan ajar Matematika berbasis karikatur pada Kelas IV SDN 3 Bebidas Kecamatan
Wanasaba Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.
Masih
kurangnnya bahan ajar yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar.
2.
Hasil
belajar siswa SDN 3 Bebidas pada mata pelajaran matematika masih rendah tidak
memenuhi KKM yang sudah ditentukan.
3.
Pengembangan
bahan karikatur belajar yang belum optimal yang diberikan kepada siswa
khususnya pada mata pelajaran matematika.
4.
Pentingya
pengembangan bahan ajar karikatur pada mata pelajaran Matematika untuk membangkitkan
kegairahan siswa belajar matematika.
C.
Batasan Masalah
Agar masalah dalam penelitian ini
tidak terlalu luas dan menimbulkan interpretasi yang berbeda maka masalah dalam
penelitian ini dibatasi pada:
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini terbatas pada siswa
kelas IV SD Negeri 3 Bebidas Kecamatan Wanasaba Tahun Pelajaran 2015/2016.
2.
Objek
Penelitian
Objek penelitian ini terbatas pada pengembangan
bahan ajar matematika berbasis karikatur pada kelas IV SDN 3 Bebidas Kecamatan
Wanasaba semester II Tahun Pelajaran 2015/2016.
D. Rumusan Masalah
Berasarkan latar belakang, identifikasi masalah dalam penelitian yang
dipaparkan di atas, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah yang akan dinyatakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana
mengembangkan bahan ajar karikatur pada pembelajaran matematika untuk siswa kelas IV SDN 3 bebidas Tahun Pelajaran 2015/2016?
2.
Bagaimana langkah-langkah membuat bahan
ajar karikatur pada pembelajaran Matematika pada siswa kelas IV SDN 3 bebidas Tahun Pelajaran 2015/2016?
E. Spesifikasi
Produk
Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah produk berupa
bahan ajar berbasis karikatur dengan
spesifikasi sebagai berikut:
1.
Karikatur matematika ini ditujukan
untuk
siswa SD.
Karikatur ditujukan kepada siswa SD
semata-mata untuk menyampaikan pesan dan pelajaran dengan bingkai kemasan yang
menarik sehingga mampu menarik perhatian siswa untuk membacanya. Ketika siswa
melihat gambar karikatur tersebut, maka siswa akan berusaha menangkap isi pesan
serta pelajaran yang terkandung di dalam karikatur tersebut. Terlepas dari
sampai atau tidaknya pesan tersebut, namun umumnya karikatur mampu menarik
perhatian sebagian besar siswa. Hal inilah yang menjadi modal dasar guru
sebelum menyampaikan pelajaran yang lebih kompleks. Selain itu karikatur juga
memiliki tujuan sebagai hiburan bagi siswa yang lelah terhadap materi
pelajaran, di samping fungsinya sebagai media pembelajaran bagi siswa.
Adapun beberapa manfaat media
pembelajaran dengan karikatur adalah sebagai berikut:
1.
Menarik minat siswa hingga dapat meningkatkan minat
belajar.
2.
Lebih memperjelas makna bahan pelajaran sehingga lebih
mudah dipahami dan memungkinkan siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran
dengan baik.
3.
Membuat variasi metode mengajar sehingga tidak
semata-mata komunikasi verbal antara guru dan siswa. Dengan demikian siswa
tidak akan bosan dengan gaya mengajar guru yang itu-itu saja.
4.
Lebih memperbanyak siswa melakukan kegiatan belajar,
karena selain dari penjelasan guru, siswa juga mengamati serta memikirkan
masalah dan pesan yang terkandung dalam karikatur tersebut.
5.
Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta
hasilnya yang berkenaan dengan daya pikir siswa.
2. Tampilan
fisik
dari Karikatur adalah
sebagai
berikut:
a. Ukuran
fisik Karikatur menggunakan
kertas A4
b. Tebal kertas setiap halaman menggunakan 80g/m2
c. Bentuk karikatur yakni berbentuk 3D
3 dimensi
atau biasa disingkat 3D atau
disebut ruang, adalah bentuk
dari benda yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi.
Istilah ini biasanya digunakan dalam bidang seni, animasi, komputer dan matematika.
d. Sifat-sifat karikatur diantaranya yaitu
menggambarkan seseorang (biasanya tokoh yang dikenal) dengan mengekspos
ciri-cirinya dalam bentuk wajah ataupun kebiasaannya tanpa objek lain atau situasi di
sekelilingnya secara karikatural.
3. Program
yang digunakan untuk membuat Karikatur menggunakan Photoshop.
Salah satu aplikasi perangkat lunak
editor gambar buatan Adobe Systems yang dikhususkan untuk pengeditan
foto/gambar dan pembuatan efek, atau biasa disebut layer style. Perangkat lunak
ini banyak digunakan oleh fotografer digital dan perusahaan iklan, Photoshop
Selain memiliki fitur yang mudah untuk di pahami, photoshop juga memiliki
beberapa unggulan fitur yang mampu bekerja maximal, hingga mensuport beberapa
file, sehingga bagi kamu seorang desain grafis, ini merupakan salah satu syarat
jika kamu pengen masuk ke dunia desain grafis, photoshop dengan segala
fasilitasnya.
4.
Bagian-bagian
dari
Karikatur ini antara lain:
a.
Gambar
Gambar karikatur lebih berfungsi
untuk mengungkapkan pesan, persepsi, tanggapan dan pengalaman seseorang di
dalam proses kehidupan manusia. Gambar karikatur dapat memberikan pengaruh
positif terhadap perubahan tingkah laku dan moral masyarakat, dengan penekanan
bentuk visual yang berkesan sebagai kritikan, sindiran, saran atau himbauan.
b.
Ekspresi
Pengungkapan atau proses
menyatakan (yaitu memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan,
pandangan air muka yg memperlihatkan perasaan seseorang
c.
Penyesuaian
tema dan sasaran
Sebelum membuat karikatur alangkah
baiknya pertama sekali kita menentukan tema dan sasaran, agar apa yang kita
harapkan tercapai dan siswa akan mudah memahami apa yang terkadung dalam gambar
karikatur tersebut.
F. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Untuk
mengetahui pengembangan bahan ajar karikatur pada mata pelajaran matematika
untuk siswa SDN 3 Bebidas Tahun
Pelajaran 2014/2015.
2.
Untuk mengetahui langka-langkah membuat bahan ajar karikatur
pada pembelajaran matematika pada siswa kelas IV SDN 3 Bebidas Tahun
Pelajaran 2014/2015.
G. Manfaat Hasil
Penelitian
Manfaat dari hasil penelitian ini adalah :
1.
Bagi
siswa, dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika
sehingga hasil belajarnya meningkat.
2.
Bagi
guru, sebagai pedoman untuk melaksanakan pembelajaran dan dapat mengoptimalkan
penggunaan media dalam pembelajaran matematika.
3. Bagi sekolah, meningkatkan hasil belajar
matematika serta meningkatkan citra sekolah di mata masyarakat.
4. Bagi peneliti yang lain, sebagai masukan yang
berharga untuk melaksanakan tugas dimasa yang akan datang.
H. Asumsi Penelitian dan Keterbatasan Pengembangan
1.
Dapat terciptanya bahan pembelajaran berbasis karikatur dalam
pembelajaran matematika
untuk siswa SD/MI
2.
Terciptanya proses belajar mengajar yang menyenangkan dan membangkitkan gairah
belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.
3.
Dengan
mengembangkan bahan ajar di sekolah dapat menambah prestasi belajar siswa dibidang keilmuan
matematika.
I. Definisi Istilah
1.
Bahan ajar adalah suatu bentuk
gambar yang sifatnya klise, sindiran, kritikan, dan lucu.
- Karikatur merupakan ungkapan perasaan seseorang yang diekspresikan agar diketahui khalayak.
- Bahan ajar karikatur sebagai media komunikasi mengandung pesan, kritik atau sindiran tanpa banyak komentar, tetapi cukup dengan rekaan gambar yang sifatnya lucu sekaligus mengandung makna yang dalam (pedas).
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Kajian
Teori
Menurut Sungkono dkk (2003:1) Bahan
Pembelajaran adalah seperangkat bahan ajar yang memuat materi atau isi
pembelajaran yang “didesain” untuk mencapai tujuan pembelajaran. Suatu bahan
pembelajaran memuat materi, pesan atau isi mata pelajaran. Dengan kata
“didesain” dapat diketahui bahwa bahan pembelajaran juga dapat diwujudkan
berupa media pembelajaran, alat peraga pembelajaran yang dapat digunakan untuk
belajar siswa dalam proses pembelajaran, dan sumber belajar yang membantu guru
dan siswa dalam pembelajaran.
Bahan
pembelajaran matematika di sekolah dasar merupakan seperangkat bahan yang
memuat materi atau isi pembelajaran sekolah dasar (sesuai kurikulum SD) yang
“didesain” dalam bentuk bahan yang digunakan siswa dan guru dalam
prosespembelajaran utnuk mencapai tujuan pembelajaran di Sekolah Dasar. Ada dua
bentuk bahan pembelajaran yaitu :
1. Bahan pembelajaran yang “didesain” lengkap, artinya
bahan pembelajaran yang memuat semua komponen pembelajaran secara utuh,
meliputi : tujuan pembelajran atau kompotensi yang akan dicapai, kegiatan
belajar yang harus dilakukan siswa, materi pembelajaran, latihan dan tugas,
evaluasi, dan tugas, evaluasi, dan umpan balik. Contoh kelompok bahan
pembelajaran ini adalah, modul pembelajaran, audio pembelajaran, video
pembvelajaran, pembelajaran bebasis computer, pembelajaran berbasis
Web/internet.
2. Bahan pembelajaran yang “didesain” tidak lengkap,
artinya bahan pembelajaran yang didesain dalam bentuk sumber balajar, media
pembelajaran atau alat peraga yang digunakan sebagai alat bantu ketika guru dan
siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran. Contoh kelompok bahan pembelajaran
ini meliputi, pembelajaran dengan berbagai alat peraga, belajar dengan
transparansi, belajar dengan buku teks, peta, globe, model kerangka manusia,
dan sebagainya. Misalnya, guru akan mengajarkan materi tentang pulau-pulau
besar di Indonesia. Peta dapat diklarifikasikan sebagai bentuk desain bahan
pembelajaran yang berisi materi tentang kepulauan Indonesia.
Bahan pembelajaran perlu
dikembangakan dan organisasi secara mantap dan matang agar pembelajaran tidak
melenceng dari tujuan yang hendak dicapai.
Pembelajaran di Sekolah Dasar
mempunyai karakteristik yang sangat berbeda dengan pembelajaran di
Sekolah Menengah. Hal ini disebabkan karena karakteristik siswa SD
berbeda dengan siswa sekolah menengah. Secara
institusional tujuan pembelajaran di sekolah dasar lebih ke
arah pengembangan potensi dasar para siswa SD, karena potensi dasar ini
sangat diperlukan untuk belajar dan pembelajaran pada tingkat
pendidikan selanjutnya. Apabila belajar dan
pembelajaran di SD tidak dilaksanakan sebagaimana
mestinya, sehingga potensi dasar tidak
berkembang dikhawatirkan menjadi penghambat bagi perkembangan
siswa selanjutnya, khususnya dalam mengikuti
program-program belajar dan pembelajaran di sekolah menengah
dan perguruan tinggi.
Berdasarkan alasan-alasan di atas,
maka bahan pembelajaran SD hendaknya memiliki karakteristik bahan
pembelajaran sebagaimana bahan pembelajaran pada umumnya tapi memperhatikan
karakteristik siswa SD seperti berikut ini.
1. Bahan ajar matematika pembelajaran SD
hendaknya memiliki karakteristik dapat membelajarkan
sendiri para siswa (self instructional), artinya bahan
pembelajaran SD mempunyai kemampuan menjelaskan yang sejelas-jelasnya
semua bahan yang termuat di dalamnya dan diperlukan bagi pembelajaran siswa SD.
2. Bahan pembelajaran bersifat lengkap, sehingga
memungkinkan siswa tidak perlu lagi mencari sumber
bahan lain. Hal ini dimaksudkan agar
tidak mempersulit siswa dalam belajar,
meskipun pada sisi lain dapat mematikan
kreativitas siswa. Dengan sifat lengkap bahan
pembelajaran juga dapat mengatasi kekurangan buku
pelajaran di SD.
3. Bahan pembelajaran bersifat
fleksibel, dapat digunakan baik untuk belajar
klasikal, kelompok dan mandiri.
4. Desain bahan pembelajaran SD
dibuat dalam format yang sederhana tidak
terlalu kompleks dan detail, yang penting
bahan pembelajaran SD mampu merangsang perkembangan
seluruh potensi dasar siswa SD. Misalnya,
mengembangkan potensi berbahasa, berimajinasi, berpikir
kritis, aktif dan kreatif, dan potensi-potensi lain
yang mendasari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tingkat
pendidikan selanjutnya.
5. Tampilan bahan pembelajaran SD
harus menarik perhatian siswa, misalnya dengan desain
sampul bergambar, berwarna-warni, dihiasi gambar-gambar yang disenangi
anak-anak SD (gambar binatang kesayangan,
dan sebagainya).
1.
Pengertian Bahan Ajar Karikatur
Bahan ajar karikatur adalah bahan
ajar dalam bentuk gambar yang bermuatan humor dengan obyek manusia atau benda
yang digambarkan dengan pemilihan tubuh atau wajah serta mengandung suatu makna
tertentu bagi pembaca. Kondisi serta pengkondisian siswa yang dilakukan oleh guru
menjadi salah satu syarat terciptanya kegiatan belajar dan mengajar yang
kondusif. Bahan ajar karikatur menjadi salah satu alternatif pilihan sebagai
media pembelajaran tersebut.
2.
Klasifikasi Bahan Ajar Karikatur
Bahan ajar dengan karikatur
merupakan salah satu jenis media pembelajaran visual karena karikatur merupakan
media yang dapat diamati oleh indera penglihatan, atau dapat dilihat,
dipandang, diperhatikan, disimak oleh siswa dengan baik.
3.
Fungsi Bahan Ajar Karikatur
Karikatur berfungsi
menyampaikan pesan dan pelajaran dengan bingkai kemasan yang menarik sehingga
mampu menarik perhatian siswa untuk membacanya. Ketika siswa melihat gambar
karikatur tersebut, maka siswa akan berusaha menangkap isi pesan serta
pelajaran yang terkandung di dalam karikatur tersebut. Terlepas dari sampai
atau tidaknya pesan tersebut, namun umumnya karikatur mampu menarik perhatian
sebagian besar siswa. Hal inilah yang menjadi modal dasar guru sebelum
menyampaikan pelajaran yang lebih kompleks. Selain itu karikatur juga memiliki
tujuan sebagai hiburan bagi siswa yang lelah terhadap materi pelajaran, di
samping fungsinya sebagai media pembelajaran bagi siswa.
4.
Manfaat Bahan Ajar Karikatur
Adapun beberapa manfaat media
pembelajaran dengan karikatur adalah sebagai berikut:
1. Menarik
minat siswa hingga dapat meningkatkan minat belajar.
2. Lebih
memperjelas makna bahan pelajaran sehingga lebih mudah dipahami dan
memungkinkan siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran dengan baik.
3. Membuat
variasi metode mengajar sehingga tidak semata-mata komunikasi verbal antara
guru dan siswa. Dengan demikian siswa tidak akan bosan dengan gaya mengajar
guru yang itu-itu saja.
4. Lebih
memperbanyak siswa melakukan kegiatan belajar, karena selain dari penjelasan
guru, siswa juga mengamati serta memikirkan masalah dan pesan yang terkandung
dalam karikatur tersebut.
5. Dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran serta hasilnya yang berkenaan dengan daya
pikir siswa.
5. Contoh Gambar Bahan Ajar Karikatur
Berikut
ini disajikan contoh gambar media pembelajaran dengan karikatur:
Karikatur adalah gambar
olok-olok yang mengandung pesan, sindiran, dan sebagainya yang dibuat dengan
cara melebih-lebihkan gambaran seseorang atau sesuatu dengan tetap
mempertahankan kemiripan visual dengan orang atau benda aslinya.
Isi karikatur bisa berupa
sindiran atau pujian dan dapat pula dimaksudkan untuk tujuan politis atau
dibuat semata-mata untuk hiburan. Karikatur politik biasa ditemukan di kartun
editorial, sementara karikatur selebriti sering ditemukan di majalah hiburan.
Karikatur adalah sebuah
penggambaran potret yang dilebih-lebihkan dengan membuat suatu bentuk
visualisasi wajah yang mudah dikenali. secara definisi, karikatur dapat
diartikan sebagai gambaran yang dilebih-lebihkan dari suatu karakteristik dari
sebuah wajah dan penyederhanaan dibagian wajah yang lain. Karikatur dapat
berfungsi sebagai penyampai pesan tertentu yang dikemas dalam bingkai yang
menarik sehingga mampu mengundang perhatian target pembaca. coba aja buka
halaman sebuah koran, dan di koran tersebut memuat sebuah gambar karikatur,
tentu pandangan kita pertama kali akan tertuju ke gambar karikatur tersebut,
selanjutnya..kita akan coba mencerna pesan apa yang disampaikan oleh gambar
tersebut. terlepas dari pesannya sampai atau tidak, kebanyakan karikatur berhasil
menarik perhatian sebagian besar target pembaca, hal tersebut sangatlah penting
dalam langkah awal sebagai media penyampai pesan. selain itu, karikatur juga
ditujukan sebagai bentuk hiburan yang unik, terlepas dari apakah akan ditujukan
untuk keperluan bisnis ataupun tidak. Kata karikatur berasal dari bahasa Italia
yaitu "Caricare" yang artinya "memuat". Dan intinya adalah
bahwa tujuan utama dari karikatur adalah untuk memuat sebanyak mungkin makna
untuk ditampilkan secara efektif didalam sebuah potret wajah.
Karikatur
adalah gambar olok-olok yang mengandung pesan, sindiran, dan sebagainya yang
dibuat dengan cara melebih-lebihkan gambaran seseorang atau sesuatu dengan
tetap mempertahankan kemiripan visual dengan orang atau benda aslinya.
Karikatur berasal dari bahasa Italia, “caricare”, yang artinya memuat
(dalam hal ini memuat berlebihan). Kata “caricatura” baru populer dan
digunakan orang dalam kehidupan dunia seni sekitar tahun 1665. Seniman yang
mengenalkan kata itu adalah Gian Lorenzo Bernini, seorang pematung dan
arsitek, ketika datang ke Perancis.
Karikatur
adalah gambar atau penggambaran suatu objek konkret dengan cara
melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut, biasanya objek tersebut adalah waja
manusia. Kata karikatur berasal dari kata Italia caricare yang berarti
memberi muatan atau melebih-lebihkan. Karikatur menggambarkan subjek yang
dikenal dan umumnya dimaksudkan untuk menimbulkan kelucuan bagi pihak yang
mengenal subjek tersebut. Karikatur dibedakan dari kartun karena karikatur
tidak membentuk cerita sebagaimana kartun, namun karikatur dapat menjadi unsur
dalam kartun, misalnya dalam kartun editorial. Orang yang membuat karikatur
disebut sebagai karikaturis.
Karikatur
sebagaimana yang dikenal sekarang berasal dari Italia abad ke-16. Pada abad
ke-18, karikatur telah menjangkau masyarakat luas melalui media cetak dan,
terutama di Inggris, telah menjadi sarana kritik sosial dan politis. Selain
sebagai bentuk seni dan hiburan, karikatur juga telah digunakan dalam bidang
psikologi untuk meneliti bagaimana manusia mengenali wajah.
Dalam membuat karikatur, karikaturis
melakukan observasi untuk menentukan ciri khas yang membuat subjeknya berbeda
dari orang lain, dan melebih-lebihkan ciri tersebut. Untuk itu, karikaturis
membandingkan wajah subjeknya dengan wajah orang rata-rata, dan
melebih-lebihkan perbedaannya. Misalnya, jika subjek karikatur memiliki hidung
yang lebih panjang dibandingkan orang rata-rata, gambaran hidung subjek
tersebut di karikaturnya akan jauh lebih panjang. Namun demikian, bagaimana
ciri khas tersebut dilebih-lebihkan sering bergantung pada gaya menggambar
masing-masing karikaturis.
Penggunaan
karikatur dalam pengenalan wajah dan persepsi wajah telah ditelaah dalam bidang
psikologi kognitif, persepsi visual, visi komputer, dan pengenalan pola.
Penelitian menunjukkan bahwa gambar wajah yang dilebih-lebihkan menggunakan
sistem pembuat karikatur terkomputerisasi seperti yang disebutkan di atas secara
umum lebih mudah dikenali daripada foto orang tersebut. Hal ini dikenal sebagai
caricature effect (‘efek karikatur’). Penelitian juga menunjukkan adanya
reverse-caricature effect (‘efek karikatur balik’), yaitu bahwa orang
yang sudah pernah melihat karikatur seseorang kemudian menjadi lebih mudah
mengenali foto orang tersebut. Fenomena ini diduga disebabkan oleh ciri-ciri
wajah yang memang berbeda dan dilebih-lebihkan dalam karikatur membuat wajah
lebih mudah dikenali. Ciri-ciri wajah yang lain daripada yang lain merupakan
hal penting dalam pengenalan wajah dan wajah yang memiliki ciri khusus memang lebih
mudah dikenali daripada wajah yang umum.
Menurut
Pramono (2008:13), karikatur seperti halnya kartun strip, kartun gags (kartun kata), kartun komik dan
kartun animasi adalah bagian dari kartun. Jika kartun diartikan sebagai gambar
lucu atau dilucukan, yang bertujuan agar pemirsanya terhibur, tersenyum atau
tertawa geli, maka karikatur adalah bagian kartun yang diberi muatan pesan yang
bernuansa kritik atau usulan terhadap seseorang atau sesuatu masalah. Meski
dibumbui dengan humor, namun karikatur merupakan kartun satire yang terkadang
malahan tidak menghibur, bahkan dapat membuat seseorang tersenyum kecut.
Karikatur
berasal dari bahasa Latin “caricare” dan “caratere”. Caricare berarti memuat
(secara berlebihan) dan caratere berarti karakter atau sifat. Gabungan kata
tersebut dikuatkan oleh kata “cara” yang berasal dari bahasa Spanyol yang
berarti wajah. Dari sini karikatur dapat kita simpulkan sebagai sebuah
penggambaran karakter secara berlebihan.
Menurut
Encyclopedia International, “A caricature
is a satyre in pictorial and sculptural
form”. Karikatur dapat berbentuk dua dimensi atau tiga dimensi.
Sedangkan menurut Encyclopedia Britanica :
A caricature is
the distorted presentation of person, type or action, commonly a silent
feature, is seized upon the exaggerated, or picture or animals, hinds or
vegetables are substituted/or hart human being or analogy is made to animal
actions.
Dalam
pengertian ini terkandung, bahwa karikatur mempunyai dua sifat, yaitu
exaggerated (terdistorsi) dan satir. Sedangkan menurut Pramono (2008:13),
karikatur memiliki arti sebagai gambar wajah yang didistorsikan, diplesetkan,
atau dipeletotkan secara karakteristik tanpa bermaksud melecehkan si pemilik
wajah.
Dengan
demikian, karikatur adalah gambar atau deskripsi yang sifatnya membesar-besarkan
(exaggerate) atau sebaliknya memupus (distort) karakter seseorang atau sesuatu
untuk menciptakan kesan kemiripan sehingga mudah dikenali antara karikatur
tersebut dengan objek sebenarnya (manusia/benda/ keadaan).
Menurut
Rianto (1982:34), ada enam syarat untuk mendapatkan gambar (dalam penelitian
ini yang dimaksud adalah gambar karikatur), yang sesuai untuk media pendidikan,
yaitu :
1. Gambar
harus autentik, artinya gambar harus mengungkapkan suatu realitas kehidupan.
2. Gambar
harus sederhana, tidak ruwet. Komposisi gambar cukup jelas menunjukkan
butir-butir pokok. Gambar yang sederhana mudah dibaca dan diselami oleh siswa.
3. Gambar
cukup popular. Artinya siswa sudah cukup mengenal sebagian atau keseluruhan
gambar, sehingga akan membantu siswa mendapatkan gambaran yang benar terhadap
setiap obyek yang ada dalam gambar tersebut.
4. Gambar
harus dinamis, artinya gambar harus menunjukkan aktivitas tertentu.
5. Gambar
harus membawa message. Gambar yang
bagus belum tentu bisa digunakan sebagai media pendidikan.
6. Gambar
yang artistik, khususnya yang natural, mempunyai daya tarik yang kuat dalam
menggugah perasaan setiap orang.
Lebih
spesifik lagi, Saputra (2004:14) menyatakan bahwa gambar karikatur lebih
berfungsi untuk mengungkapkan pesan, persepsi, tanggapan dan pengalaman
seseorang di dalam proses kehidupan manusia. Gambar karikatur dapat memberikan
pengaruh positif terhadap perubahan tingkah laku dan moral masyarakat, dengan
penekanan bentuk visual yang berkesan sebagai kritikan, sindiran, saran atau
himbauan.
Karikatur
mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai media yang digunakan untuk mempengaruhi
opini publik dalam bidang sosial politik, sebagai media hiburan dan sebagai
media pembelajaran. Sebagai media yang mempengaruhi opini publik, di Indonesia
hampir semua majalah politik (Gatra, Tempo dan lain-lain), dan beberapa surat
kabar (Kompas, Pikiran Rakyat, Jawa Pos dan lain lain) selalu menggunakan
karikatur untuk menggambarkan kondisi sosial, politik dan ekonomi yang sedang
dibahas dalam editorialnya. Sebagai media hiburan, karikatur menjadi pilihan
banyak orang yang mengikuti berita di surat kabar/majalah, cukup hanya dengan
melihat gambar karikatur beserta isi pesannya.
Karikatur
sebagai bahan ajar pembelajaran, diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami
materi pelajaran. Siswa dapat menikmati karikatur melalui gambar-gambarnya dan
membaca tulisan-tulisannya, yang berfungsi membantu siswa dalam memahami makna
dari karikatur tersebut. Isi dari karikatur mengandung materi pelajaran yang
disampaikan guru. Peneliti berharap, dengan melihat dan membuat sendiri gambar
karikatur, siswa dapat diajak berpikir kritis dalam mempelari materi sejarah
dan memahami isinya.
Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam penggunaan karikatur sebagai media pendidikan,
antara lain :
1. Sesuai
dengan tingkat pengalaman siswa, artinya karikatur dapat dimengerti siswa.
2. Kesederhanaan.
Gambar realistis, artinya dapat diproses dan dipelajari siswa. Pesan atau
informasi mudah dibaca dan dipahami. Untuk itu teks yang menyertai karikatur
dibatasi (antara 15 sampai 20 kata). Kata-kata memakai huruf sederhana dengan
gaya huruf yang mudah terbaca. Kalimat ringkas tetapi padat, dan mudah
dimengerti.
3. Karikatur
hendaknya dapat menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara
isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar efektif, karikatur sebaiknya
ditempatkan pada konteks yang bermakna dengan siswa. Siswa harus berinteraksi
dengan “image” untuk meyakinkan
terjadinya proses informasi.
Telah
diungkapkan, bahwa karikatur termasuk ke dalam media grafis atau gambar.
Karakteristik media gambar diantaranya yaitu memiliki kemampuan dalam
menumbuhkan respons siswa terutama pada indera penglihatannya. Setiap media
gambar, termasuk karikatur, memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti
dikemukakan Rinanto (1982:23).
Kelebihan
media gambar, yaitu:
1. Lebih
konkrit dan realistis dalam memunculkan pokok masalah, jika dibandingkan dengan
bahasa verbal.
2. Dapat
mengatasi batasan ruang dan waktu, artinya tidak semua objek, benda atau
peristiwa bisa dibawa ke kelas. Sebaliknya siswa tidak selalu bisa dibawa ke
objek atau peristiwa.
3. Dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Pikiran
siswa akan lebih terarah, perhatian mudah dipusatkan. Guru pun dalam
menerangkan tidak menjadi sulit, karena dibantu sarana gambar yang konkrit.
4. Memperjelas
permasalahan dalam berbagai bidang, dalam berbagai tingkat usia.
5. Murah
harganya, dan mudah dipergunakan.
Sedangkan
kelemahan media gambar, yaitu :
1. Diinterpretasikan
secara personal dan subjektif
2. Gambar
hanya menampilkan persepsi indera mata
3. Disajikan
dalam ukuran terbatas, sehingga hanya siswa yang duduk di deretan depan yang
dapat melihat dengan jelas.
4.
Gambar karikatur yang baik, bukan hanya
dapat menyampaikan pesan tertentu, melainkan juga dapat mempengaruhi sikap
minat, dan tingkah laku orang yang melihatnya.
Adanya unsur kelemahan dari media gambar dalam proses
pembelajaran tidak menghapus pentingnya peranan media gambambar dalam proses
opembelajaran. Edgar Dale dalam kerucut pengalaman belajar mengatakan bahwa
“hasil belajar seseorang diperoleh melalui pengalaman langsung (kongkrit), kenyataan yang ada
dilingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada
lambang verbal (abstrak). Semakin keatas puncak kerucut semakin abstrak media
penyampai pesan itu. Proses belajar dan interaksi mengajar tidak harus dari
pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok siswa yang dihadapi dengan
mempertimbangkan situasi belajar”. Pengalama langsung akan memberikan informasi
dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu, oleh karena ia melibatkan
indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba.
Gambar
Kerucut Edgar Dale
Lebih
lanjut Dale mengatakan bahwa stimulus visual membuahka hasil belajar yang lebih
baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan
menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Di lain pihak, stimulus verbal memberi
hasil belajar yang lebih apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang
berurutan (sekuensial). Hal ini merupakan salah satu bukti dukungan atas konsep
dual coding hypothesis (hipotesis koding ganda). Konsep itu mengatakan
bahwa ada dua sistem ingatan manusia, satu untuk mengolah simbol-simbol verbal
kemudian menyimpannya dalam proposisi image, dan lainnya untuk mengolah image
nonverbal yang kemudian disimpan dalam proposisi verbal”.
Perbandingan
memperolehan hasil belajar melalui indera pandang dan indera dengar sangat
menonjol perbedaannya. Kurang lebih 75% hasil belajar seseorang diperoleh
melalui indera pandang, dan hanya sekitar 13% diperoleh melalui indera dengar
dan 12% lagi dari indera lainnya (Dale). Sementara Paivio mengatakan 95% untuk
indera lihat dan 5% untuk indera dengar dan 5% untuk indera lainnya.
Kembali kepada masalah media karikatur. Menurut Pramono
(2008:58), karikatur yang baik untuk masyarakat timur terutama Indonesia adalah
:
1. Tidak
menyinggung/mempertentangkan masalah agama yang satu dengan yang lainnya
2. Tidak
mengeksploitasi sex secara verbal
3. Tidak
membuat pesan yang justru memicu konflik antar suku dan ras
4. Pesan
yang disampaikan komunikatif dan mudah dimengerti
5. Memberi
kebenaran informasi
6. Mencerdaskan
pembaca.
Proses belajar mengajar merupakan
inti dari keseluruhan proses pendidikan dengan guru sebagai pemegang peranan
utama. Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian
perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung
dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan
timbal balik antara guru dan siswa merupakan syarat utama bagi berlangsungnya
proses belajar mengajar.
Interaksi dalam proses belajar
mengajar mempunyai arti yang sangat luas, tidak sekedar hubungan guru dengan
siswa tetapi interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya menyampaikan pesan
berupa materi pelajaran melainkan juga nilai dan sikap pada diri siswa yang
sedang belajar.
Perlu memahami prinsip proses
belajar mengajar ada baiknya diuraikan proses belajar dan mengajar. Pengertian
proses dalam tulisan ini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang
terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lain saling berhubungan dalam
ikatan mencapai suatu tujuan (Usman, 1990:17).
Belajar diartikan sebagai suatu
bentuk pertumbuhan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah
laku yang baru berkat pengalaman atau latihan (Hamalik, 1993:9). Selanjutnya
menurut Hudojo (1993:3) bahwa karena objek matematika itu bersifat abstrak,
maka dalam matematika memerlukan daya nalar yang tinggi sehingga dapat
dikatakan bahwa belajar matematika harus selalu diarahkan pada pemahaman
konsep-konsep yang akan mengantarkan individu untuk berpikir secara matematis dengan jelas dan
pasti berdasarkan aturan-aturan yang
logis dan sistematis.
Bruner (Hudojo, 1993:56) menyatakan
bahwa belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan
struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari
serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur
matematika itu sendiri. Sementara itu Dienes dalam Ruseffendi (1980:135) mengatakan bahwa konsep (struktur
matematika dapat dipelajari dengan baik bila representasinya dimulai dengan
benda-benda konkrit yang beraneka ragam).
Dengan adanya benda-benda konkret ini
dapat membuat siswa tertarik untuk mengadaptasikan dirinya pada pembelajaran
dengan menggunakan benda-benda nyata yang ada di sekitarnya. Dalam proses ini
seorang siswa akan menggunakan struktur yang sudah ada dalam pikirannya untuk
mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan. Teori Piaget tetang
perkembangan intelektual ini menggambarkan tentang kontruksi pembentukan
pengetahuan, bahwa perkembangan intelektual adalah suatu proses dimana anak
secara aktif membangun pemahamannya dari hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungannya. Implikasi dari teori Piaget ini adalah bahwa agar siswa berhasil
dalam mempelajari matematika, maka siswa tersebut harus berinisiatif dan
terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa untuk pembelajaran matematika siswa harus terlibat diri
secara aktif dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guru. Keterlibatan
siswa tersebut dapat diupayakan jika pembelajaran dilakukan dengan benda-benda
konkret yang dikenal siswa di lingkungannya sehingga menunjukan adanya
tantangan dan inisiatif yang kuat bagi siswa untuk memecahkannya.
Gambar kartun karikatur pendidikan adalah
sebuah galery atau album gambar kartun karikatur sindiran terhadap pendidikan
yang tidak benar. Gambar karikatur kartun ini merupakan sebuah cerminan untuk
anak bangsa kita. Dimana saat ini pendidikan tidak diutamakan dalam kehidupan
sehari-hari. Dari atas memang benar wajib belajar sembilan tahun, tetapi banyak
masalah yang tidak dapat diselesaikan agar pendidikan kita berjalan dengan
lancar seperti uang negara untuk pendidikan yang dikorupsi, atau biaya sekolah
yang semakin mencuat harganya, dan lain sebagainya.
Kami
menampilakan gambar karikatur pendidikan untuk hiburan dengan tema
sindiran pendidikan di Indonesia ini. Gambar animasi ini dapat membuat banyak
orang tersindir terutama yang bersangkut dengan pendidikan seperti pelajar, guru,
pemerintah, orang tua murid, dan semua yang bersangkutan dengan pendidikan.
Semua gambar karikatur ini diambil dari sumber lainnya yang mengoleksi dan
membahas tentang pendidikan.
Gambar, 1 Karikatur pendidikan di Indonesia tentang siswa membolos
Jika kita perhatikan pemerintah
Indonesia selalu berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi tingkat kebodohan di
Indonesia. Sebagai bukti nyata kita dapat melihat program – program pemerintah
seperti : BOS, Wajib belajar 9 tahun dan tidak tanggung – tanggung pemerintah
bahkan menaikkan sebagian gaji para PNS khususnya tenaga pendidik atau lazimnya
disebut guru. Itu semua tidak lain bertujuan untuk meningkatkan keefektifan
cara mengajar guru kepada para penerus bangsa yaitu siswa.
Tapi pada kenyataannya hal ini
bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan, pasalnya mereka lebih memilih
bolos ketimbang belajar. Memang cerita bolos sewaktu jam pelajaran sudah tidak
asing lagi bagi sebagian kalangan pelajar ataupun pembaca sebagai pihak
pengamat. Seringkali telinga kita sampai sakit mendengar kata bolos karena hal
ini bukanlah cerita baru lagi. Bolos atau meninggalkan jam pelajaran saat
kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung di sekolah. Itu adalah sebuah hal
yang sering dilakukan oleh para pelajar. Namun tetap saja boleh dikatakan wajar
karena sifat dasar siswa yang juga manusia yang selalu saja ada secuil rasa
bosan yang timbul di benak mereka. Bosan dengan rutinitas sehari-hari untuk
pergi ke sekolah dan menunaikan kewajiban sebagai pelajar. Terlebih bagi mereka
yang sudah menjadikan bolos ini sebagai hobi dan agenda wajib mereka saat
sekolah. Mereka yang malas-malasan dan hanya ingin bersenang-senang saja
tentunya lebih memilih untuk meninggalkan kelas daripada harus mendengarkan
penjelasan guru yang tidak mereka mengerti. Mungkin masalah yang seperti ini
sering dianggap sepele oleh sebagian kalangan, namun hal ini sangatlah
disayangkan terutama bagi pemerintah yang sudah berusaha keras untuk memajukan pendidikan
di Indonesia, Apalagi kalau kita mengamati sekarang banyaknya siswa yang
berkeliaran di jalan, di pasar, di pertokoan bahkan di mall, sewaktu di saat
jam sekolah.
Pendidikan karakter yang idealnya ditanamkan sejak dini di lembaga
pendidikan dasar dan menengah, seharusnya lebih ditingkatkan pada jenjang
pendidikan tinggi. Sebab peserta didik di lingkungan kampus mempunyai
kepentingan langsung dan praktis terhadap karakter-karakter positif, serta
lebih dekat untk terjun dalam kehidupan riil di masyarakat. Dengan demikian
karakter-karakter positif bagi siswa merupakan keniscayaan dan kebutuhan yang
mendesak.
Secara teknis, penanaman karakter positif akan lebih efektif dan mengena apabila dilakukan melalui keteladanan. Dalam hal ini pihak-pihak yang tekait dengan penyelenggaraan pedidikan di tingkat sekolah dasar harus turut ambil bagian dalam memberikan keteladanan yang baik kepada masyarakat. Guru, pegawai, dan siswa harus memberikan contoh perilaku jujur, disiplin, kreatif, kritis, d.l.l. kepada masyarakat. Dengan lingkungan yang kondusif, penyemaian karakter positif akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh siswa.
Satu hal lagi yang merupakan media pendidikan karakter bagi siswa adalah melalui integrasi pendidikan karakter tersebut ke dalam mata mata pelajaran yang diajarkan. Penanaman karakter positif seyogianya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dari bidang keilmuan yang dipelajari. Sebab sikap moral yang baik akan menjadi fondasi yang bagus atas segala bidang keahlian. Dengan demikian, apapun profesi yang ditekuni siswa nantinya, jika dia memiliki integritas moral yang tangguh, dia akan memberikan dampak positif bagi diri dan masyarakatnya kelak.
Secara teknis, penanaman karakter positif akan lebih efektif dan mengena apabila dilakukan melalui keteladanan. Dalam hal ini pihak-pihak yang tekait dengan penyelenggaraan pedidikan di tingkat sekolah dasar harus turut ambil bagian dalam memberikan keteladanan yang baik kepada masyarakat. Guru, pegawai, dan siswa harus memberikan contoh perilaku jujur, disiplin, kreatif, kritis, d.l.l. kepada masyarakat. Dengan lingkungan yang kondusif, penyemaian karakter positif akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh siswa.
Satu hal lagi yang merupakan media pendidikan karakter bagi siswa adalah melalui integrasi pendidikan karakter tersebut ke dalam mata mata pelajaran yang diajarkan. Penanaman karakter positif seyogianya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dari bidang keilmuan yang dipelajari. Sebab sikap moral yang baik akan menjadi fondasi yang bagus atas segala bidang keahlian. Dengan demikian, apapun profesi yang ditekuni siswa nantinya, jika dia memiliki integritas moral yang tangguh, dia akan memberikan dampak positif bagi diri dan masyarakatnya kelak.
Karakter positif merupakan hasil pendidikan dan pembiasaan yang dimulai
sedari kecil, bukan hal yang instan. Karena itu, keluarga, masyarakat, dan
sekolah berperan sangat signifikan dalam pembentukan karakter seseorang.
Pembentukan dan pematangan karakter ini akan mencapai klimaksnya di lingkungan
sekolah. Karena itu, lingkungan sekolah harus dibuat sebaik mungkin sebagai
media pengembangan karakter positif bagi calon-calon pemimpin di masa depan.
B. Kajian Penelitian yang
Relevan
Beberapa penelitian yang berkaitan dengan bahan ajar karikatur
antara lain dilakukan oleh Rani Hartini (2004) Penelitian ini difokuskan pada permasalahan, apakah dengan menggunakan media gambar seri
karikatur
dapat
meningkatkan kemampuan
menulis narasi
siswa kelas
V
SD Inpres 004 Tikke.
Sementara itu
penelitian oleh, Dini Ristanti (2010). Di
dalam hasil
penelitian tersebut
dijelaskan bahwa keterampilan
berbicara dengan media gambar karikatur
dapat meningkatkan Peningkatan kualitas hasil pembelajaran ditandai dengan meningkatnya
ketuntasan dalam keterampilan berbicara.
Selanjutnya hasil penelitian Muhammad Habibi
(2014) dalam hasil penelitiannya bahwa
modul pecahan berbasis konstruktivisme dengan sisipan karikatur untuk kelas IV SD berada pada
kategori valid baik ditinjau dari aspek didaktik, konstruk, maupun teknis. Modul pecahan berbasis konstruktivisme dengan sisipan karikatur yang dikembangkan praktis, dan efektif
digunakan sebagai media pembelajaran matematika.
Dengan demikian terdapat relevansi dari hasil penelitian
di atas terhadap penelitian ini, bahwa hasil penelitian tersebut memberikan
sumbangsih terhadap penelitian ini. Bahwa dengan gambaran yang sudah diperoleh
dari hasil penelitian sebelumnya dapat diperoleh langkah-langkah yang
komprensif dalam penelitian ini. Karena data dan informasi yang berkenaan
dengan mengembangkan bahan ajar karikatur dapat meningkatkan dan memotivasi
belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
C.
Kerangka Berpikir
Setiap individu mempunyai latar belakang
yang berbeda–beda dalam
memaknai suatu peristiwa
atau objek.
Hal ini dikarenakan adanya
penglaman (Field of Experince) dan pengetahuan (Frame of Reference) yang berbeda–beda pada individu
tersebut. Begitu juga peneliti dalam memaknai tanda dan lambang
yang ada dalam objek, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan peneliti.
Dalam penelitian
ini,
peneliti
akan
menganalisis bahan ajar karikatur. Kerangka
berpikir
yang digunakan oleh peneliti adalah teori semiotik dari Charles Sanders Peirce yang mengkategorikan tanda kedalam tiga kategori, yaitu ikon, indeks dan simbol yang kemudian tada-tanda tersebut akan dipemaknaankan sesuai dengan isi pesan yang akan disampaikan.
Yang diutamakan adalah peristiwa yang
membelakangi
pembuatan
karikatur mengenai bahan
ajar karikatur sebagai signifikan
dalam
pembuatan makna. Realitas
sosial tersebut dipaparkan secara eksplisit dalam pemilihan ikon yaitu bahan ajar karikatur pada mata pelajaran matematika SD. Pierce menggunakan tanda istilah (sign) yang merupakan pemaknaan dari sesuatu di luar tanda, yaitu (obyek)
dan
dipahami oleh peserta komunikasi (interpretan).
Melalui teori semiotik ini dapat diperoleh hasil interpretasi dari karikatur mengenai dari hasil interpretasi tersebut akan dapat diungkap muatan pesan yang terkandung dalam ilustrasi
karikatur tersebut.
D.
Pertanyaan Peneliti
1.
Bagaimana cara mengembangkan dan membuat bahan
ajar karikatur pada pelajaran matematika pada
sekolah dasar ?
2.
Bagaimana
pengembangan bahan ajar karikatur untuk meningkatkan belajar pada siswa?
BAB IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Data
Hasil Pengembangan
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini
seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya adalah bahan ajar yang spesifiknya
adalah bahan ajar berbasis karikatur yang dikembangkan untuk siswa Sekolah
Dasar Kelas IV (empat) khususnya semester ganap. Model pengembangan dalam
penelitian ini mengacu pada model dick and Carrey menunjukan hubungan yang sangat jelas,
dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata
lain, system yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya
padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya. Langkah awal pada model
Dick and Carey adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Langkah ini sangat
sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah
dasar, khususnya dalam mata pelajaran matematika umum di mana tujuan
pembelajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan.
Langkah- langkah desain pembelajaran menurut Dick and Carey sebagai dasar pengembangan produk ada 10 langkah dalam
model pengembangan, yaitu Identifikasi
Tujuan (Identity Instruyctional Goals),
Melakukan Analisis Instruksional (Conducting
a Goal Analysis), Mengidentifikasi Tingkah Laku Awal/Karakteristik Siswa (Identity Entry Behaviours,Characteristic),
Merumuskan Tujuan Kinerja (Write
Performance Objectives), Pengembangan Tes Acuan Patokan (Developing Criterian-Referenced Test
Items), Pengembangan Strategi Pengajaran (Develop Instructional Strategy), Pengembangan atau Memilih
Pengajaran (Develop And Select
Instructional Materials), Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Formatif (Design And Conduct Formative Evaluation), Menulis
Perangkat (Design And
Conduct Summative Evaluation), Revisi Pengajaran (Instructional Revitions),
Dalam
tahapan tersebut terdapat beberapa kegiatan yang harus dilakukan sesuai dengan
diagram alur pengembangan bahan ajar berbasis karikatur pada bab III.
Keunggulan model pembelajaran ini yaitu dilihat dari prosedur kerjanya
yang sistematik yakni pada setiap langkah
yang akan dilalui selalu mengacu pada langkah
sebelumnya yang sudah diperbaiki sehingga diperoleh produk yang efektif.
a. Identifikasi Tujuan
(Identity Instruyctional Goals).
Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar
mahasiswa dapat melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program
pengajaran. Definisi tujuan pengajaran mungkin mengacu pada kurikulum tertentu
atau mungkin juga berasal dari daftar tujuan sebagai hasil need
assessment, atau dari pengalaman praktek dengan kesulitan belajar siswa di
dalam kelas.
b. Melakukan
Analisis Instruksional (Conducting a Goal
Analysis).
Setelah mengidentifikasi tujuan pembelajaran, maka akan ditentukan apa
tipe belajar yang dibutuhkan siswa. Tujuan yang dianalisis untuk
mengidentifikasi keterampilan yang lebih khusus lagi yang harus dipelajari.
Analisis ini akan menghasilkan carta atau diagram tentang keterampilan-keterampilan/
konsep dan menunjukkan keterkaitan antara keterampilan konsep tersebut.
Analisis dilakukan dengan cara: (1) mengklasifikasikan rumusan tujuan menurut
jenis ranah belajar (keterampilan psikomotor, keterampilan intelektual,
informasi verbal, sikap), dan (2) mengenaliteknik analisis pembelajaran yang
cocok untuk memeriksa secara tepat perbuatan belajar yang sebaiknya
dilakukan dalam mencapai tujuan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
yang menjadi objek penelitian, tujuan difokuskan pada pencapaianketerampilan
intelektual.
c. Mengidentifikasi
Tingkah Laku Awal/Karakteristik Siswa (Identity
Entry Behaviours,Characteristic).
Ketika melakukan analisis terhadap keterampilan-keterampilan yang perlu
dilatihkandan tahapan prosedur yang perlu dilewati, juga harus dipertimbangkan
keterampilan apa yang telah dimiliki siswa saat mulai mengikuti pengajaran.
Penting juga untuk diidentifikasi adalah karakteristik khusus siswa yang
mungkin ada hubungannya dengan rancangan aktivitas-aktivitas pengajaran.
d.
Merumuskan Tujuan Kinerja (Write
Performance Objectives).
Berdasarkan analisis instruksional dan pernyataan tentang tingkah laku
awal siswa, selanjutnya akan dirumuskan pernyataan khusus tentang apa yang
harus dilakukan siswa setelah menyelesaikan pembelajaran.
e.
Pengembangan Tes Acuan Patokan (Developing
Criterian-Referenced Test Items).
Pengembangan Tes Acuan Patokan didasarkan pada tujuan yang telah dirumuskan,
pengembangan butir assesmen untuk mengukur kemampuan siswa seperti
yangdiperkirakan dalam tujuan.
f. Pengembangan
Strategi Pengajaran (Develop
Instructional Strategy).
Informasi dari lima tahap sebelumnya, maka selanjutnya akan
mengidentifikasi yangakan digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Strategi akan
meliputi aktivitas preinstruksional, penyampaian informasi, praktek dan
balikan, testing, yangdilakukan lewat aktivitas.
g. Pengembangan
atau Memilih Pengajaran (Develop And
Select Instructional Materials).
Tahap ini akan digunakan strategi pengajaran untuk menghasilkan
pengajaran yang meliputi petunjuk untuk siswa, bahan pelajaran, tes dan panduan
guru.
h.
Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Formatif (Design And Conduct Formative Evaluation).
Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan
untuk mengidentifikasi bagaimana mengembangkan
bahan ajar karikatur pengajaran.
i.
Menulis Perangkat (Design And
Conduct Summative Evaluation)
Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat
yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di
kelas/diimplementasikan di kelas.
j.
Revisi Pengajaran (Instructional
Revitions).
Tahap ini mengulangi siklus
pengembangan perangkat pengajaran. Data dari evaluasi sumatif yang telah
dilakukan pada tahap sebelumnya diringkas dan dianalisis serta
diinterpretasikan untuk diidentifikasi kesulitan yang dialami oleh siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran. Begitu pula masukan dari hasil implementasi
dari pakar/validator. Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan
suatu mata pelajaran dimaksudkan agar : ( 1) Pada awal proses pembelajaran anak
didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal- hal yang berkaitan
dengan materi pada akhir pembelajaran. (2) Adanya pertautan antara
tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang
dikehendaki. (3) Menerangkan langka-langkah yang perlu dilakukan dalam
melakukan perencanaan desain pembelajaran.
Pada
tahap pengembangan, sebelum bahan ajar berbasis karikatur digunakan dan diuji
cobakan, maka terlebih dahulu dilakukan validasi (penilaian) oleh ahli
praktisi. Tujuan diadakannya kegiatan validasi pada penelitian ini adalah untuk
mendapatkan status valid atau sangat valid dari para ahli (validator).
Dalam
Penelitian ini validasi dilakukan selama tiga minggu. Validator dalam
penelitian ini dikelompokkan menjadi dua, yakni pertama dilakukan oleh pembimbing
baru divalidasi oleh ahli yang berkompeten dan mengerti tentang penyusunan
bahan ajar selama satu minggu atas rekomendasi dari pembimbing.
Deskripsi hasil
pengembangan yang berupa bahan ajar karikatur dipaparkan karakteristik produk pengembangan.
Kajian produk bahan ajar dutinjau dari dua aspek, yaitu aspek isi bahan ajar
dan aspek desain bahan ajar.
Aspek
isi bahan ajar terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
1.
Caver bahan ajar
Cover depan
disusun semenarik mungkin, sehingga pembaca memiliki keinginan dan ketertarikan
untuk mengetahui dalamnya. Pada bagian cover ini terdiri dari sub-sub yang
terdapat pada bahan ajar seperti materi pembahasan, background terdapat gambar,
dalam cover juga terdapat nama penyusun yang memuat pengembang bahan ajar.
2.
Bahan
ajar berisikan cukup bahan untuk mata pelajaran Matematika
Bahan ajar ini
berisikan materi-materi sesuai dengan pembelajaran matematika kelas IV Sekolah
Dasar bedasarkan kurikulum yang berlaku.
3.
Isi
bahan ajar sesuai dengan SK/KD
Isi bahan ajar
ini sudah sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat
pada silabus dan RPP pada kurikulm yang ada.
4.
Isi
bahan ajar
Isi bahan ajar
memiliki tingkat kebenaran sesuai dengan kenyataan yang ada pada kurikulum
5.
Pokok pembahasan bahan ajar
Pokok-pokok yang
dibahas dalam bahan ajar ini betul-betul berarti bagi siswa, dan siswa akan
termotivasi untuk mempelajari matematika yang dianggap sulit.
6.
Isi
bahan ajar
Isi bahan ajar
matematika kelas IV untuk Sekolah Dasar ini tersusun secara sistematis dan
mengikuti kaidah metodis pedagogis yang sebenarnya.
7.
Bahasa
yang digunakan
Bahasa yang
digunakan dalam bahan ajar ini sesuai dengan tingkat perkembangan siswa yang
akan mempelajarinya yaitu untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar.
8.
Susunan
kalimat dan penjelasan bahan ajar
Susunan kalimat
perkalimat pada bahan ajar matematika berbasis karikatur ini menarik,
sederhana, dan mudah dipahami oleh siswa.
9.
Format
penyajian bahan ajar
Format yang
digunakan dalam penyajian bahan ajar matematika kelas IV ini menarik dan dapat merarangsang minat
siswa dalam mempelajari mata pelajaran matematika yang begitu dianggap sulit
oleh siswa.
10.
Bahan
ajar ini dilengkapi dengan daftar isi dan bagian-bagian pelengkap penyajian
buku.
Sebagaimana
yang terdapat dalam bahan ajar yang lainnya bahan ajar matematika yang berbasis
karikatur ini juga dilengkapai daftar isi dan bagian-bagian pelengkap lainnya
untuk mempermudah siswa mencari halaman perhalaman dalam bahan ajar ini.
11.
Kesesuaian
antara indicator dengan materi pelajaran
Bahan ajar ini
sudah diteliti oleh tim validasi, tim validasi menyimpulkan bahwa bahan ajar
ini sudah sesuai dengan indicator dan materi pembelajaran pada mata pelajaran
matematika kelas IV.
12.
Kualitas
dan kuantitas table, gambar, diagram, grafik, peta, ikhtisar, pertanyaan, dan
tugas dalam bahan ajar ini sudah sesuai untuk meningkatkan prestasi siswa.
13.
Validasi
menyimpulkan bahwa, Isi dari bahan ajar matematika kelas IV untuk Sekolah Dasar
ini sudah sesuai dengan perbedaan
individual, kebutuhan, dan kemampuan siswa yang akan membacanya.
Hasil
penilaian (validasi) secara singkat dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel : Hasil Validasi Bahan Ajar
Berbasis Karikatur
No
|
Aspek yang
dinilai
|
Rata-rata Nilai
|
Keterangan
|
1
|
Kemenarikan
sampul bahan ajar
|
4
|
|
2
|
Bahan
ajar berisikan cukup bahan untuk mata pelajaran Matematika
|
4
|
|
3
|
Isi
bahan ajar sesuai dengan SK/KD
|
4.5
|
|
4
|
Isi
bahan ajar memiliki tingkat kebenaran sesuai dengan kenyataan
|
4.5
|
|
5
|
Pokok-pokok
yang dibahas dalam bahan ajar ini betul-betul berarti bagi siswa
|
3.5
|
|
6
|
Isi
bahan ajar tersusun secara sistematis dan mengikuti kaidah metodis pedagogis
|
4
|
|
7
|
Bahasa
yang digunakan dalam bahan ajar ini sesuai dengan tingkat perkembangan siswa
yang akan mempelajarinya.
|
4
|
|
8
|
Susunan
kalimat dan penjelasan bahan ajar ini menarik, sedrhana, dan mudah dipahami
|
4
|
|
9
|
Format
penyajian bahan ajar ini menarik dan dapat merarangsang minat siswa
|
4
|
|
10
|
Bahan
ajar ini dilengkapi dengan daftar isi dan bagian-bagian pelengkap penyajian
buku
|
4.5
|
|
11
|
Kesesuaian
antara indicator dengan materi pelajaran
|
4
|
|
12
|
Kualitas
dan kuantitas table, gambar, diagram, grafik, peta, ikhtisar, pertanyaan, dan
tugas dalam bahan ajar ini
|
4.5
|
|
13
|
Isi
bahan ajar ini disesuaikan dengan perbedaan individual, kebutuhan, dan
kemampuan siswa yang akan membacanya.
|
3.5
|
|
Skor Total
|
53
|
||
Rata-rata
|
4.1
|
||
Kategori
|
Baik
|
||
Hasil Validasi dari dua tim ahli
-
Validasi
para ahli I
Skor Total = 48
Rata-rata = 3,69
-
Validasi
para ahli II
Skor
Total = 58
Rata-rata
= 4,46
Hasil Validasi dari para ahli
3,69+4,46
Hasil
validasi =
2
= 8,15
2
= 4,1
Inteval dan kriteria Uji Kelayakan Produk Oleh Ahli validator
X>4,21 = Sangat Baik
3,40<X<
4,21 = Baik
2,60<X<
3,40 = Cukup
1,79<X<
2,60 = Kurang
X<
1,79 = Sangat Kurang
Berdasarkan table diatas, di dapatkan rata-rata
dari penilaian para validator sebesar 4.1 dengan kategori “ Baik “
sehingga sehingga dengan demikian Produk (bahan Ajar Berbasis Karikatur) layak
untuk diuji cobakan karena masuk dalam kategori valid.
Hasil
prodak
dengan materi
mendapat skor 4.1 dinyatakan
baik. Sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh Daryanto
(2010:56) bahwa materi pembelajaran yang terkandung didalamnya harus sesuai
dengan kurikulum dan mengandung banyak manfaat. Ini dapat diartikan materi yang tersaji sudah jelas dan tepat sesuai dengan apa yang diajarkan
oleh guru mata pelajaran.
B. Data Uji Coba
Uji coba produk (Bahan Ajar
Berbasis Karikatur) dilakukan secara terbatas, yakni pada siswa kelas IV SDN 3
Bebidas yang berjumlah 19 orang siswa. Adapun pelaksanaan uji coba dilakukan
selama 3 minggu dengan 5 kali pertemuan sesuai dengan jadwal mata pelajaran
Matematika di kelas IV SDN 3 Bebidas. Dalam proses uji coba produk peneliti
terjun langsung sebagai pengajar pada pokok bahasan “ Kelipatan Bilangan, dan
Faktor Bilangan “ sesuai dengan pokok bahasan yang diteliti. Rincian jam
pertemuan proses uji coba produk dijelaskan dalam table berikut :
Pertemuan
|
Hari/Tanggal
|
Rincian dan
Pertemuan
|
I
|
Senin,
11 April 2016
|
Kegiatan
: KBM
Jam
Pelaksanaan : 09.50-11.00 Wit
Alokasi
Waktu : 2 x 35 Menit
|
II
|
Rabu,
13 April 2016
|
Kegiatan
: KBM
Jam
Pelaksanaan : 09.50-11.00 Wit
Alokasi
Waktu : 2 x 35 Menit
|
III
|
Senin,
18 April 2016
|
Kegiatan
: KBM
Jam
Pelaksanaan : 09.50-11.00 Wit
Alokasi
Waktu : 2 x 35 Menit
|
IV
|
Rabu,
20 April 2016
|
Kegiatan
: Prkatek & Pengisian Angket
Jam
Pelaksanaan : 09.50-11.00 Wit
Alokasi
Waktu : 2 x 35 Menit
|
V
|
Senin,
25 April 2016SS
|
Kegiatan
: Evaluasi
Jam
Pelaksanaan : 09.50-11.00 Wit
Alokasi
Waktu : 2 x 35 Menit
|
Dalam proses uji coba produk
diperoleh data tentang hasil belajar siswa dan respon siswa terhadap produk
(Bahan Ajar Matematika Berbasis Karikatur). Uji coba yang telah dilaksanakan
selama 4 kali pertemuan kemudian masing-masing data yang diperoleh akan dianalisis
dengan tekhnik analisis data yang ada pada bab sebelumnya. Mengenai bagaimana
jalannya proses uji coba produk dapat dilihat di Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) pada.
C. Analisis Data
Respon
Siswa terhadap Produk ( Bahan Ajar Matematika Berbasis Karikatur)
Untuk mengetahui tentang respon
siswa terhadap produk yang dikembangkan (Bahan Ajar Berbasis Karikatur), maka
digunakan instrument angket respon siswa Angket diberikan kepada siswa pada
minggu ke-2 pelaksanaan penelitian tepatnya pada pertemuan ke-3, yakni setelah
selesai proses pembelajaran pokok bahasan “ Kelipatan Bilangan, dan Faktor
Bilangan “. Data yang diperoleh dari angket respon siswa terhadap Bahan Ajar
Berbasis Karikatur disajikan secara singkat pada table sebagai berikut :
Tabel : Respon Siswa terhadap Bahan
Ajar Berbasis Karikatur
No
|
Aspek yang Direspon
|
Penilaian/Respon Siswa
|
|||||||||
SS
|
S
|
CS
|
KS
|
TS
|
|||||||
J
|
P
|
J
|
P
|
J
|
P
|
J
|
P
|
J
|
P
|
||
1
|
Apakah
kamu senang belajar dengan bahan ajar karikatur yang diberikan oleh gurumu?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Apakah
kamu mudah memahami materi pelajaran dengan bahan ajar karikatur yang
diberikan oleh tersebut?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
3
|
Aapakah
kamu senang dengan bentuk tulisan (jenis huruf) yang digunakan dalam bahan
ajar karikatur tersebut?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
4
|
Apakah
gambar yang ditampilkan dalam bahan ajar karikatur sesuai dengan materi yang
disajikan?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
5
|
Apakah
isi bahan ajar sesuai dengan pokok materi yang dibahas?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
6
|
Apakah
ukuran huruf yang digunakan dalam bahan ajar karikatur sudah tepat (pas)?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
7
|
Apakah
bahasa yang digunakan dalam bahan ajar karikatur tersebut mempengaruhi minat
belajar kamu?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
8
|
Apakah
gambar-gambar yang disajikan dalam bahan ajar karikatur tersebut berpengaruh
terhadap motivasi belajar kamu?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
9
|
Apakah
bahasa yang digunakan dalam bahan ajar karikatur tersebut mudah kamu pahami?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
10
|
Apakah
kamu senang digunakan gambar-gambar yang terdapat dalam bahan ajar karikatur
tersebut?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
11
|
Apakah
penggunaan bahan ajar karikatur dapat merangsang ingin tahumu akan konsep
matapelajaran Matematika?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
12
|
Apakah
kamu cepat menguasai konsep pembelajaran matematika dengan belajar
menggunakan bahan ajar karikatur tersebut?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
13
|
Apakah
menurutmu bahan ajar karikatur tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran?
|
16
|
94%
|
3
|
6%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
14
|
Apakah
pengguanaan bahan ajar karikatur dapat membantumu lebih tertarik untuk
belajar?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
15
|
Apakah
penggunaan bahan ajar karikatur dapat membantumu menyelesaikan soal-soal yang
diberikan oleh gurumu?
|
15
|
88%
|
4
|
12%
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
Keterangan
SS : Sangat senang/Sangat mudah/sangat
tepat/sangat berpengaruh
S : Senang/mudah/tepat/berpengaruh
CS : Cukup senang/cykup mudah/cukup
tepat/cukup berpengaruh
KS : Kuarang senang/kadang-kadang/kurang
tepat/kurang berpengaru
TS : Tidak senang/sulit/tidak tepat/tidak
berpengaruh
J : Jumlah
P : Persentase
Tabel diatas menunjukkan bahwa
rata-rata 88% siswa sangat senang dan 11% menyatakan senang belajar dengan
menggunkan Bahan Ajar Karikatur. Sedangkan dari 19 siswa tidak ada yang yang
menyatakan cukup senang, dan tidak senang belajar dengan Bahan Ajar Brbasis
Karikatur.
D. Revisi Produk
Revisi produk yang dilakukan
berdasarkan hasil dari validasi, yakni masukan dari para ahli selaku validator.
Adapun masukan yang diberikan oleh para ahli terdapat Bahan Ajar Berbasis
Karikatur dapat dilihat pada table berikut :
Tabel : Masukan Validator Terhadap Produk
No
|
Nama Validator
|
Masukan
|
1
|
Hamdan, S.Pd
NIP.-
|
-
Tabahkan glosarium dibuku anda agar lebih lengkap
dan menarik lagi.
-
Kalau bias sebelum mulai/masuk ke materi diberikan
pengantar berupa cerita-cerita yang mengarah pada materi yang akan disajikan.
|
2
|
M. Yazid, M.Pd
NIDN. 082 003 8801
|
-
Lengkapi juga dengan indicator pembelajaran yang
ingin dicapai.
-
Setiap materi harus dijabarkan.
-
Color/warna harus satu.
|
Berdasarkan table masukan
validator diatas dapat diketahui bahawa, revisi yang dilakukan terhadap produk
tidak brrsifat total akan tetapi hanya bersifat penambahan saja sesuai dengan
masukan yang diberikan oleh validator.
E. Kajian Produk Akhir
Bahan ajar matematika berbasis
karikatur yang dikembangkan telah melewati semua tahapan pengembangan
berdasarkan model pengembangan Plomp yang digunakan peniliti dalam kategori
baik sehingga layak untuk digunakan pada tahap uji coba. Pada tahap uji coba,
bahan ajar matematika berbasis karikatur yang ditunjukkan dengan terciptanya
suasana kelas yang menyenangkan dan siswa aktif dalam proses belajar siswa yang
mengalami peningkatan yang ditunjukkan
dengan tingkat ketuntasan belajar siswa yang meningkat secara
signifikan.
Secara rinci, produk akhir yang
dikembangkan dalam penelitian ini dapat dikaji dari 2 (dua) aspek, yakni hasil
validasi dari para validator, dan respon siswa terhadap produk.
1. Dari Aspek Hasil
Validasi
Dari validasi produk yang dilakukan
oleh para ahli selaku validator didapatkan rata-rata nilai sebesar 4.1 dengan
kategori valid.
2. Dari Aspek respon
Siswa Terhadap Produk
Dari data angket yang diberikan
kepada siswa menunjukkan bahwa rata-rata 89% siswa sangat senang dan 11% senang
belajar dengan menggunakan Bahan Ajar Berbasis Karikatur dikatakan efektif
karena respon siswa dikatakan posistif.
Sehingga dapat dikatan bahwa, Bahan
Ajar Berbasis Karikatur pada kajian akhir dinyatakan Valid, Praktis dan Efektif
digunakan dalam proses pembelajaran Matematika Kelas IV Sekolah Dasar Semester
Genap Khususnya pada pokok bahasan “Kelipatan Bilangan, dan Faktor bilangan“.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
pengembangan Bahan Ajar Berbasis Karikatur untuk kelas IV Sekolah Dasar
Semester Genap, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Dihasilkan
produk berupa “Bahan Ajar Matematika Berbasis Karikatur” untuk kelas IV Sekilah
Dasar semester Genap yang Valid, Praktis dan Efektif. Proses pengembangan bahan
ajar mengacu pada model Plop, yaitu fase investigasi awal, fase perencanaan,
fase realisasi dan fase validasi, uji coba dan revisi.
2. Bahan ajar matematika berbasis karikatur yang
dikembangkan dalam penelitian ini telah divalidasi oleh validator dengan
rata-rata nilai sebesar 4.1 sehingga dinyatakan bahan ajar matematika berbasis
karikatur valid.
3. Respon siswa terhadap bahan ajar matematika
berbasis karikatur yang menunjukkan bahwa persentase rata-rata 89% siswa sangat
senang dan 11% menyatakan senang belajar dengan menggunakan bahan ajar
matematika berbasis karikatur. Data tersebut menunjukkan bahwa 100% siswa
memberikan respon yang positif terhadap bahan jara matematika berbasis
karikatur.
4. Respon guru terhadap bahan ajar matematika
berbasis karikatur sangat positif, hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata
angket dari 15 butir soal adalah 4.8 yang masuk kategori sangat baik.
5. Tes hasil belajar siswa setelah proses
pembelajaran dilakukan dengan menggunakan bahan ajar berbasis karikatur
menunjukkan peningkatan yang signifikan, dimana dari 19 siswa, siswa
menunjukkan hasil belajar sangat rendah turun dari 12% menjadi 6%, siswa yang
menunjukkan hasil belajar rendah turun dari 24% menjadi 6%, siswa menunjukkan
hasil sedang turun dari dari 52% menjadi 29%, siswa yang menunjukkan hasil yang
tinggi naik dari 12% menjadi 41%, dan siswa yang menunjukkan hasil yang sangat
tinggi naik dari 0% menjadi 18%. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa
bahan ajar berbasis karikatur efektif digunakan dalam proses pembelajaran
ditinjau dari hasil belajar.
B. Keterbatasan Penelitian
Adapun hal-hal yang kurang pada penelitian ini tidak terlepas dari
keterbatasan penelit pada penelitian ini antara lain disebabkan oleh beberapa
factor diantaranya : keterbatasan waktu, tenaga, biaya yang menyebabkan
penelitian ini hanya terbatas pada materi matematika semester genap kelas IV
SDN 3 Bebidas dan pada proses uji coba produk terbatas pada sub pokok bahasan “
Kelipatan Bilangan, dan Faktor Bilangan “.
C. Saran
Pemampaatan Desiminasi dan Pengembangan
Saran-saran yang dapat diberikan kepada penulis sebagai sumbangan
pemikiran terhadap pemampaatan desiminasi dan pengembangan bahan ajar
matematika berbasis karikatur sebagai berikut :
1.
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini yakni bahan ajar matematika
berbasis karikatur hendaknya biasa dijadikan sebagai alternative referensi
khususnya bagi guru kelas IV sekolah dasar.
2.
Besar harapan peneliti kiranya produk yang dihasilkan dalam penelitian
ini, yakni bahan ajar matematika berbasis karikatur sampai ke tahap diseminasi
dikemudian hari.
3.
Sehubungan dengan hasil penelitian, maka hendaknya bahan ajar matematika
berbasis karikatur yang dikembangkan di dalam penelitian ini dijadikan sebagai
referensi pengembangan berikut.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Nyimas, 2007. Pengembangan
Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Amin, 2001. Peranan Kreatifitas Dalam Pendidikan.
Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Anonim, 2004. Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Depdiknas Jakarta.
Asmani, Jamal Ma’mur, 2009. Tips menjadi guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif
Yogyakarta : DIVA Press.
Depdiknas. 2004. Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah. Cetakan Edisi Keempat : Malang Pers.
Depdiknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Mata Pelajaran Matematika
Untuk Tingkat SD/MI. Jakarta: Depdiknas.
Dini Ristanti. 2010. Hasil Penilitian Tindakan Kelas, keterampilan berbicara
dengan media
gambar karikatur dapat meningkatkan Peningkatan kualitas hasil pembelajaran ditandai dengan meningkatnya ketuntasan dalam keterampilan berbicara.
Hamalik, Oemar 2000. Proses
Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi
Aksara.
--------------, 1993. Evaluasi Kurikulum. Bandung: Gramedia
Rosda Karya.
---------------,
1993. Mengajar Beajar Matematika
Surabaya: Usaha Nasional.
Habibi 2014, Hasil Penilitian Tindakan Kelas pada Sekolah
dasar
Hudoyo, Herman. 1997. Pengembangan
Kurikulum Matematika dan Pelaksanaanya di depan kelas. Surabaya : Usaha
Nasional.
Harjanto. 2010. Perencanaan
Pengajaran. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Ibrahim, H., Sihkabuden, Suprijanta, &
Kustiawan, U., 2001. Media Pembelajaran: Bahan Sajian Program
Pendidikan Akta Mengajar. FIP. UM.
Latuheru, 1993. Media Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar Kini. Ujung
Pandang: FKIP Ujung Pandang.
Marpaung, Y., 2001. Prospek MRE untuk Pembelajaran Matematika
Indonesia. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Realistic Mathematics
Education (MRE), Jurusan Matematika
FMIPA UNESA, Surabaya, 24 Februari.
Mc .Niff, 1991. Penelitian
Tindakan Kelas Cetakan. 20 Jakarta :
Universitas Terbuka.
Pramono 2008:13 : Media Pembelajaran Sekolah : Universitas Negeri Surabaya
Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif membuat bahan ajar inovatif
Yogyakarta: DIVA Press.
Rianto 1982:34 : Kecakapan untuk Menggambar : UMN Library
Ruseffendi, 1993.Pendidikan
Matematika 3. Jakarta Depsikbud.
Rani Hartini
(2004) Penelitian ini
difokuskan pada permasalahan, apakah dengan menggunakan media gambar seri karikatur dapat meningkatkan
kemampuan menulis
narasi siswa
kelas V SD Inpres 004 Tikke.
Rahmanelli, 2005. Jurnal Kependidikan. Vol . Nomor 2.
Padang.
Raharjo, R.., 1991. Desain Media Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Russeffendi, 1980. Pengantar Membantu Guru Mengembangkan
Kompetensi Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA. Bandung:
Tarsito.
Sudjana, Nana and Ahmad Rivai. 2007. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Simanjuntak, Lisnawaty, dkk. 1993. Metode Mengajar Matematika jilid II.
Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana. 1989. Teori-teori
belajar untuk pengajaran. Bandung:
Universitas Indonesia.
Sadiman, A.S., dkk., 2007. Media Pendidikan: Pengeratian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya.
Jakarta: CV. Rajawali.
Suherman, E., 1990. Strategi Pembelajaran Matematika
Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika F MIPA Universitas
Pendidikan Indonesia.
Saputra 2004:14 : Media Pembelajaran : Lumbung Pustaka UNY
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan
Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif Dan R&D. Bandung :
Alfabeta.
______. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif Dan Kombinasi (Mixed
Methods. Bandung : Alfabeta.
Sukardjo. (2005). Evaluasi Pembelajaran. Diklat
Mata Kuliah Evaluasi
Pembelajaran. Prodi TP PPs UNY. Tidak Diterbitkan.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2009). Metode
Penelitian Pendidikan. Bandung.
PT.
Remaja Rosdakarya.
Sungkono dkk. 2003. Pengembangan Bahan Ajar.
Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta
Usman,
Uzer, 1990. Menjadi Guru Yang Profesional.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wardani, I. G. A. K. 2005, Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Wardhani, I.G.A.K. Wihardut. K,
dan Nasution, N, (2004). Penelitian
Tindakan Kelas, Jakarta : Pusat Penerbit Universitas Terbuka.
Yuwono, I. 2001. RME
(Realitas Mathematics Educations) dan Hasil Studi awal Implementasinya di SLTP. Makalah
disampaikan dalam Seminar Nasional
Realistic Mathematis Educations (RME), jurusan
Matematika FMIPA UNESA, Surabaya, 24 februari.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar